ANALISIS FILOSOFI LAGU IRANO
SIHINO DOLA
(Lagu Masyarakat Nias)
Oleh: Opini Abdi Putra Hia
1. Pengantar
Setiap
daerah memiliki tradisi dan cerita tersendiri yang merupakan keunikan dan identitasnya.
Demikian halnya dengan masyarakat pulau Nias yang pernah hidup di bawah penjajahan ketika Belanda dan Jepang menguasai
Indonesia. Hidup di bawah penjajahan tentu merupakan hal yang tidak diinginkan,
sebab kebebasan kelangsungan hidup
adalah hal yang diidamkan oleh setiap orang. Realita ini yang membuat
masyarakat Nias melakukan perlawanan sebagai bentuk perjuangan meraih kehidupan
yang layak. Uniknya,
semangat perjuangan ini turut dikobarkan oleh sebuah nyanyian yang hingga kini
masih terdengar melalui mulut-mulut para pemuda dan orangtua, baik secara
individu maupun dalam pertemuan-pertemuan besar.
Kendatipun saat ini Nias sudah sangat berkembang, bahkan dikenal dunia sebagai salah satu destinasi wisata dengan budaya yang unik dan menarik, ditambah dengan keindahan alamnya yang menarik wisatawan lokal maupun mancanegara, bukan berarti sejarah perjuangan dan hal-hal yang turut mewarnai semangat perjuangan diabaikan atau bahkan hanya dikenang begitu saja. Penulis merasa penting melestarikannya sehingga dapat dijadikan "panduan" menghadapi masa sekarang dan yang akan datang.
Oleh karena itu, tulisan ini akan membahas sebuah nyanyian perjuangan yang berisi pesan-pesan aktual dan relevan, dengan Tema: Analisis Filosofis Musik Lokal
Nias: Iraono Sihino Dola.
2. Profil
Pencipta Lagu
Lagu
iraono sihino dola diciptakan oleh seorang warga Nias bernama
Faododogo Zega, lahir di Bo’uso, Nias, berprofesi sebagai Guru Jemaat di salah
satu gereja di Nias dan Pegawai Negeri Sipil di Departemen Penerangan
Gunungsitoli-Nias. Dia menciptakan lagu ini sekitar tahun 40-45, yakni pada
masa-masa mendekati hari proklamasi kemerdekaan Indonesia. Hidup pada dua era
penjajahan di Indonesia, yakni Belanda dan Jepang, membuatnya merasakan
perihnya masa-masa penjajahan. Kondisi inilah yang membuatnya terinsipirasi
menciptakan lagu sebagai usaha mempertahankan dan memperjuangkan nasib
masyarakat Nias.
Di
masa-masa perjuangan kemerdekaan, lagu ini menjadi sangat popular terutama di
wilayahnya. Informan menyebutkan bahwa tokoh-tokoh Nias pada saat itu tengah
memperjuangkan hak-hak masyarakat Nias yang selama ini dibatasi, terutama dalam
pendidikan serta penerapan kerja paksa oleh penjajah.[1] Selanjutnya,
pasca penjajahan lagu ini sangat berkembang dan popular bagi masyarakat Nias
secara menyeluruh sebab lagu ini dimasukkan dalam buku bidang Studi Muatan
Lokal di Sekolah Dasar (walau saat ini sudah tidak lagi dijadikan sebagai salah
satu bahan ajar di Sekolah Dasar).
3. Selayang
pandang tentang Nias dan Penjajahan
Sebagaimana
muatan pada poin pertama paper ini, penulis merasa perlu memperlihatkan secara
ringkas tentang Nias (dalam bentuk gambar dan data-data) dan dampak kehadiran kolonial
supaya pesan filofis lagu ini dapat dengan mudah ditemukan.
3.1.Nias
dalam Foto
Gambar 1: Peta kepulauan Nias
Gambar 3: keluarga tokoh adat dan para ksaria
Gambar 4: kegiatan upacara adat
Gambar 5: tampak turis sedang surfing
Gambar 6: Bandara Binaka, Nias
Keterangan:
1) Gambar
1 adalah peta pulau Nias yang menggambarkan letak geografis (Lokasi: Asia
Tenggara, Koordinat: 1°6′LU 97°32′BT, Luas: 4.771 km², Provinsi Sumatera Utara,
empat Kabupaten: Kabupaten Nias, Nias Selatan, Nias Barat, dan Nias Utara, serta
satu Kota Gunungsitoli (sumber: Wikipedia).
2) Gambar
2, 3 dan 4 memperlihatkan kondisi masyarakat Nias sebelum kemerdekaan (sebelum
dan pada masa penjajahan)
3) Gambar
5 dan 6 memperlihatkan perkembangan Nias pasca penjajahan (sumber foto: Kompasiana).
3.2.Kehidupan
masyarakat Nias (agama dan budaya)
Sebelum kolonial masuk dan
memperkenalkan agama “modern”, Nias sudah terlebih dahulu memiliki tradisi
pemujaan (agama suku) terhadap leluhur (yang diwujudkan dalam pembuatan patung
yang dikenal dengan istilah adu), dan
pohon-pohon besar yang dianggap memiliki kekuatan. Di samping itu, dalam
memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari umumnya masyarakat Nias berburu, beternak,
dan bercocok tanam. Selanjutnya, kolonial memperkenalkan cara baru seperti menanam padi, karet dan berkebun kelapa.
Selanjutnya, masyarakat Nias memiliki
ada istiadat yang hingga sekarang dipraktekkan seperti lompat batu, upacara
pernikahan, tarian tradisional dan musik.[2]
Secara khusus di bidang musical, Nias
memiliki musik tradisional baik vocal maupun instrumental. Dalam bidang vocal
dikenal beberapa jenis musik vocal yang digunakan dalam momen-momen tertentu.
Jenis musik vocal tersebut adalah hoho (lagu
para imam atau ere), hendri hendri (lagu pernikahan), maola (lagu penyambutan para tamu), famaola (lagu yang mengawali tarian
penyambutan tamu), mo’ere (doa), gözö-gözö (nyanyian umum), famolaya iraono (nyanyian untuk
anak-anak), lailö (lagu hiburan
secara umum), böli (nyanyian hiburan),
ngenu-ngenu (nyanyian kesedihan dan
penderitaan), dan böli-böli (nyanyian
hiburan untuk orang yang berduka). Terdapat berbagai jenis alat musik
tradisional gesek, tiup dan pukul, yaitu doli-doli,
lagia, raba, göndra, rafa’i, tamburu, fondrahi, tutu, tamburana, sigu lewuö, riri-riri
lewuö, fifi wofo, tutuhao/tutuhaena, duri gahe, tamburu danö, riti-riti sole, tabolia,
koko-koko, faritia, aramba, mage-mage/koroco, ndruri mbewe, ndruri weto.[3]
Sistem tangga nada musik tradisional
Nias (vocal dan instrumental) berbeda dengan system tangga nada musik-musik
eropa dengan dua belas (12) nada (do, di, re, ri, mi, fa, fi, sol, sil, la, li,
si). Biasanya musik tradisional Nias terdiri dari 3-4 nada tiap lagu.
3.3.Masuknya
penjajah dan dampaknya
Masuknya penjajah sangat berdampak pada
masyarakat pribumi Nias dan dalam perkembangan tradisi/budaya setempat.
Penjajah menerapkan system kerja paksa (rodi), pembatasan pendidikan,
penguasaan hasil-hasil bumi serta budaya turut diimpor di tanah pribumi,
seperti agama melalui para misionaris dan system mata pencaharian.
Dalam hal budaya, terutama musik,
kolonial melalui para misionaris dalam penginjilannya memperkenalkan
nyanyian-nyanyian eropa yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Nias untuk
kepentingan penginjilan. Bahkan, terdapat lagu-lagu nasional bangsa-bangsa
eropa yang liriknya diubah ke dalam bahasa Nias menjadi nyanyian rohani sebagai
langkah-langkah kristenisasi.[4] Cara
ini yang menurut penulis pada akhirnya mempengaruhi perkembangan system tangga
nada lagu-lagu Nias yang mana pada masa-masa itu lagu-lagu mengikuti melodi
barat dengan system diatonic. Bahkan masyarakat Nias, cenderung meminati
musik-musik gaya melody barat (terbukti dengan realita saat ini, di mana para musisi, composer, dan masyarakat lebih
menyukai lagu-lagu Nias yang diciptakan dengan system diatonic).
Hal ini sejalan dengan teori
poskolonialisme yang berbicara
mengenai reaksi dari dampak-dampak yang timbul semenjak terjadinya
kolonialisme.[5] Dampak-dampak
yang penulis maksud dikhususkan dengan budaya musical pribumi pasca kolonial.
Lebih jelasnya lagi apabila merujuk pada teori Hommy K. Bhaba[6]
tentang konsep hibriditas (hibrida: persilangan) dan konsep mimikri (peniruan).
Bhabha memberi argumen bahwa interaksi antara koloniser (penjajah) dan kolonise
(terjajah) mengarah kepada fusi norma-norma budaya, yang mana menguatkan
kekuatan kolonial, juga dalam ‘mimicry’, mengancam untuk mendestabilisenya. Hal
ini memungkinkan karena identitas koloniser tidak stabil, keberadaan dalam
suatu situasi ekspatriasi (tindakan untuk melepaskan diri dari negaranya) yang
terisolasi. Bhaba melihat antara penjajah dan yang terjajah terdapat
"ruang antara" yang memungkinkan keduanya untuk berinteraksi.
Bhabha mengajukan model liminalitas
untuk menghidupkan ruang persinggungan antara teori dan praktik kolonisasi
untuk melahirkan hibriditas. Hal ini disebabkan pencarian identitas itu
idealnya tidak pernah berhenti. Di antara penjajah dan terjajah terdapat ruang
ketiga tempat persilangan budaya atau hibriditas memunculkan diri dalam budaya,
ras, bahasa, dan lain sebagainya. Konsep liminalitas Bhaba ini digunakan untuk
mendeskripsikan suatu "ruang antara" dimana perubahan budaya dapat
berlangsung; ruang antarbudaya di mana strategi-strategi kedirian personal
maupun komunal dapat dikembangkan, suatu wilayah di mana terdapat proses gerak
pertukaran status yang berbeda-beda dan berlangsung terus-menerus.[7]
Dengan teori ini, perubahan musik Nias, khususnya bentuk melody, dapat dipahami
apalagi dengan konsep peniruan (mimicry) yang memang pada dasarnya dilakukan
oleh masyarakat terjajah.
4. Iraono
sihino dola
Setelah
penulis membahas panjang lebar tentang konteks dan perubahan-perubahan yang
terjadi pasca kolonial, maka pada bagian ini penulis akan focus pada pembahasan
lagu iraono sihino dola.
4.1.Lirik
lagu dan terjemahan[8]
Inõtõ
iada’a ba zi so ita tenga simane inõtõ mefõna,
(masa sekarang tidak sama seperti
masa dulu)
Tenga
femõrõ fedao-dao, faigi gõi wa’auri zato.
(jangan hanya tidur dan duduk,
tetapi perhatikan situasi hidup masyarakat)
Ya’aga
iraono sihino dõla saohagõlõma mboto na moguna
(kami pemuda pemudi, siap rela korban
jiwa dan raga)
Tuyu
mbaluse awõ doho, he ha lewuõ ha ono gauko
(angkat perisai, tombak dan bambu
runcing)
Na
oi ha sara oi awulo, faya maria fana sesolo
(jika kita berkumpul dan bersatu,
meriam sekalipun tidak ada apa-apanya)
Moloi
nudu ba lakhõmi zato
(dengan bersatu, musuh pasti kalah).
Lagu perjuangan yang diciptakan pada
masa penjajahan ini tidak menggunakan melodi musik tradisional, melainkan
system tangga nada diatonic barat. Bentuknya
juga tidak mirip dengan salah satu bentuk-bentuk musik vocal tradisional Nias
yang sudah penulis uraikan sebelumnya. Penulis yakin hal ini merupakan dampak
dari budaya impor barat terutama para penginjil yang mengajarkan lagu-lagu
rohani melodi barat.
Pembaca atau penyanyi tidak membutuhkan
waktu lama untuk mengetahui deskripsi dan goal
lagu ini. Berdasarkan terjemahannya, lagu ini menggambarkan semangat
perjuangan dan persatuan. Apabila dihubungkan dengan konteksnya maka lagu ini
bertujuan untuk mengobarkan semangat persatuan para pemuda Nias yang sudah
tertindas begitu lama oleh bangsa penjajah. Upaya-upaya perlawanan terhadap
penjajah memang sering dilakukan, akan tetapi tidak membuahkan hasil maksimal.
Oleh karena itu, dibutuhkan persatuan masyarakat (khususnya pemuda) dan bukan
perjuangan masing-masing kelompok/wilayah tertentu.
Berikut
analisa lagu perbait:
“Inõtõ
iada’a ba zi so ita tenga simane inõtõ mefõna,”
(masa
sekarang tidak sama seperti masa dulu)
Kalimat
ini adalah perbandingan tentang kondisi masyarakat yang dijajah dengan kondisi masyarakat sebelumnya pra
penjajahan. Tentu kehadiran penjajah lebih banyak membawa penderitaan disetiap
bidang kehidupan.
“Tenga
femõrõ fedao-dao, faigi gõi wa’auri zato”
(jangan
hanya tidur dan duduk, tetapi perhatikan situasi hidup masyarakat)
Penulis tidak tahu persis apakah pencipta lagu hendak
menunjukkan pola atau karakter masyarakat Nias (terutama pemuda) yang
bermalas-malasan, sebab penulis tidak memiliki data terkait dengan karakter
pemuda Nias masa penjajahan. Malah sebaliknya, penjajah menerapkan cara kerja
paksa kepada masyarakat Nias. Walau demikin penulis melihat pada masa sekarang
masyarakat Nias (pemuda) banyak yang menghabiskan nongkrong di warung bahkan
bermabuk-mabukkan (terutama di pedesaan). Tapi yang jelas si pencipta lagu
mengajak para pemuda untuk turut memperhatikan situasi hidup orang banyak.
“Ya’aga
iraono sihino dõla saohagõlõma mboto na moguna”
(kami
pemuda pemudi, siap rela korban jiwa dan raga)
Suatu
pernyataan sikap yang kumandangkan, bahkan sekalipun nyawa taruhannya demi
perjuangan memperoleh kebebasan hidup, kebebasan mendapatkan pendidikan dan
hak-hak lain sebagaimana yang seharusnya.
“Tuyu
mbaluse awõ doho, he ha lewuõ ha ono gauko”
(angkat
perisai, tombak dan bambu runcing)
Perisai
adalah tameng para ksatria Nias dalam mempertahankan hidup (lih. gambar 3).
Perisai ini juga dipergunakan dalam pertahanan perang melawan kelompok-kelompok
lain (orang Nias sendiri). Tombak dan bambu runcing adalah senjata utama dalam
peperangan (lih. gambar 2). Masyarakat Nias yang gemar berburu binatang buas
memiliki kemampuan mumpuni dalam mengoperasikan alat-alat perang semacam ini.
Biasanya ujung bambu diolesi atau ditaruh racun yang mematikan sehingga membuat
lawan (penculik, maling, binatang buruan) dapat dengan mudah ditumbangkan.
Na oi ha sara oi awulo, faya maria fana
sesolo
(jika kita
berkumpul dan bersatu, meriam sekalipun tidak ada apa-apanya)
Pada masa dahulu, masyarakat Nias masih terkotak-kotak
dimana masing-masing banua/wilayah (perkampungan) memiliki pimpinan atau
ketua adat. Namun, masing-masing perkampungan ini seringkali berperang satu
dengan yang lain. Bahkan menurut cerita, sebelum Injil diterima sebagai agama
di Nias masyarakat sering dibuat ketakutan apabila ada acara-acara adat,
seperti penotabatan ketua adat. Biasanya mereka mempersembahkan korban manusia
untuk kemuliaan dan kehormatan “raja” mereka. Korban tersebut diculik dari
perkampungan lain. Situasi ini barangkali yang mendorong pencipta lagu untuk
menyuarakan persatuan, apalagi musuh (penjajah) memiliki senjata besar (meriam). Meriam dulunya dikenal sebagai senjata modern zaman itu, sehingga sangat disegani oleh masyarakat tradisional. Namun, senjata ini tidak berarti apapun apabila ada persatuan.
Moloi
nudu ba lakhõmi zato.
(dengan bersatu, musuh pasti kalah)
Syair lagu ini ditutup
dengan keyakinan bahwa persatuan seluruh pemuda akan mengalahkan musuh
(penjajah).
5. Persatuan adalah senjata ampuh mengalahkan musuh!
Lagu ini menggambarkan kondisi
memprihatinkan dari masyarakat terjajah yang mesti bangkit untuk berjuang
melawan penindas. Semangat perjuangan diawali dengan kepekaan dan kepedulian
terhadap sesama masyarakat yang tertindas serta kepedulian terhadap masa depan
mereka yang hidup maupun generasi yang akan datang. Dengan dilandasi semangat
ini, maka nyawa sekalipun rela dikorbankan di medan perang. Pemuda-pemudi
adalah pejuang sejati yang siap menggunakan seluruh kemampuan untuk membela
masyarakat dan bangsa yang tertindas. Namun demikian, senjata yang paling ampuh
dalam melawan musuh yang diperlengkapi dengan senjata “modern” adalah
persatuan, sebab tanpa itu perjuangan akan menjadi sia-sia.
Bercermin dari filosofi lagu membuat kita menyadari bahwa kekuatan persatuan adalah kekuatan yang dahsyat, kekuatan yang memiliki roh. Ibarat pepatah mengatakan bersatu kita teguh bercerai kita runtuh; atau sepertihalnya filisofi lidi, di mana sebatang lidi akan mudah dipatahkan
dibanding seikat lidi. Atau dengan kata lain, walau hanya dipersenjatai bambu
apabila ada persatuan maka maka musuhpun akan dikalahkan sekalipun
dipersenjatai dengan meriam.
6. Penutup
Bangsa Indonesia secara resmi telah
menyatakan kemerdekaan, tetapi hingga saat ini dampak dan wujud proklamasi itu
masih belum memuaskan, bahkan jauh dari harapan. Penjajah asing sudah terusir,
tetapi bangsa sendiri sedang mengusik. Korupsi, ketidakadilan (social, hukum
dan ekonomi), dan radikalisme merupakan koloni yang tidak formal. Oleh karena
itu, untuk memperoleh kemerdekaan secara
penuh, maka seluruh elemen masyarakat yang sadar akan kondisi “darurat” bangsa
diharapkan bersatu dan berjuang bersama-sama. Indonesia memang sudah dijajah,
namun tidak bermental jajahan, kita bangkit dan kita berjuang bersama.
Melalui tulisan ini, penulis akhirnya
menyadari mengapa lagu ini dulunya selalu kami nyanyikan setiap malam perayaan
kemerdekaan RI (pada saat pawai obor 17 agustus) di pulau Nias. Salam
Persatuan!
Keterangan dan sumber:
[1] Data ini penulis dapatkan dari seorang
teman yang membantu penulis melakukan wawancara kepada salah seorang musikus (composer) Nias yang memang pernah bertemu langsung dengan pencipta lagu ini.
Bahkan informan ini telah mengaransemen dan menerjemahkan lagu ini ke dalam
Bahasa Indonesia. Informan tersebut adalah Yas Harefa, seorang komponis besar
pulau Nias dan menjadi salah seorang tokoh pendidikan seni yang memasukan lagu iraono sihino dola ke dalam buku
pelajaran Sekolah Dasar bidang studi Muatan Lokal di Nias dulunya. Lokasi
wawancara di Gunungsitoli, tempat tinggal yang bersangkutan.
[2] Dikutip Yayasan Pusaka Nias, Budaya Nias, dalam
http://www.museum-nias.org/budaya-nias/
[3] Dikutip Yayasan Pusaka Nias, Tarian dan Musik, dalam
http://www.museum-nias.org/tarian-musik/
[4] Para misionaris ini berhasil mengkristenkan
masyarakat Nias, yang ditandai dengan adanya pertobatan massal. Dan saat ini,
penduduk mayoritas adalah Kristen.
[5] I. Gusti Wahyu Agung, Postkolonialisme,
http://arsa90gmail.blogspot.co.id/, diakses tanggal 2 Juni 2017
[6] Homi K. Bhabha (lahir 1949)
adalah seorang profesor dalam bidang literatur Amerika dan Inggris, dan bahasa
di Anne F. Rothenberg, juga adalah direktur dari Pusat studi Kemanusiaan di
Universitas Harvard. Dia adalah salah satu tokoh terkenal dalam disiplin studi
postkolonial
[7] Febrina Windy Arisanti, Imperialisme dan Kolonialisme Menurut Homi K.
Bhaha, dimuat dalam
http://febrina-windy-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-87894-Ideide%20politik-Imperialisme%20dan%20Kolonialisme%20Menurut%20Homi%20K.%20Bhaha.html,
diakses tanggal 5 Juni 2016
[8] Hasil terjemahan penulis






No comments:
Post a Comment